Jumat, 03 Agustus 2012

Sejarah Singkat Imam An-Nawawi

Sejarah Singkat Imam An-Nawawi



Disusun Oleh: Ustadz Anas Burhanuddin, Lc.

Beliau adalah Yahya bin Syaraf bin Hasan bin Husain An-Nawawi Ad-Dimasyqiy, Abu Zakaria. Beliau dilahirkan pada bulan Muharram tahun 631 H di Nawa, sebuah kampung di daerah Dimasyq (Damascus) yang sekarang merupakan ibukota Suriah. Beliau dididik oleh ayah beliau yang terkenal dengan kesalehan dan ketakwaan. Beliau mulai belajar di katatib (tempat belajar baca tulis untuk anak-anak) dan hafal Al-Quran sebelum menginjak usia baligh.

Ketika berumur sepuluh tahun, Syaikh Yasin bin Yusuf Az-Zarkasyi melihatnya dipaksa bermain oleh teman-teman sebayanya, namun ia menghindar, menolak dan menangis karena paksaan tersebut. Syaikh ini berkata bahwa anak ini diharapkan akan menjadi orang paling pintar dan paling zuhud pada masanya dan bisa memberikan manfaat yang besar kepada umat Islam. Perhatian ayah dan guru beliaupun menjadi semakin besar.
An-Nawawi tinggal di Nawa hingga berusia 18 tahun. Kemudian pada tahun 649 H ia memulai rihlah thalabul ilminya ke Dimasyq dengan menghadiri halaqah–halaqah ilmiah yang diadakan oleh para ulama kota tersebut. Ia tinggal di madrasah Ar-rawahiyyah didekat Al-Jami’ Al-Umawiy. Jadilah thalabul ilmi sebagai kesibukannya yang utama. Disebutkan bahwa ia menghadiri dua belas halaqah dalam sehari. Ia rajin sekali dan menghafal banyak hal. Iapun mengungguli teman-temannya yang lain. Ia berkata : “Dan aku menulis segala yang berhubungan dengannya,baik penjelasan kalimat yang sulit maupun pemberian harakat pada kata-kata. Dan Allah telah memberikan barakah dalam waktuku.” [Syadzaratudz Dzahab 5/355].
Diantara syaikh beliau: Abul Baqa’ An-Nablusiy, Abdul Aziz bin Muhammad Al-Ausiy, Abu Ishaq Al-Muradiy, Abul Faraj Ibnu Qudamah Al-Maqdisiy, Ishaq bin Ahmad Al-Maghribiy dan Ibnul Firkah. Dan diantara murid beliau: Ibnul ‘Aththar Asy-Syafi’iy, Abul Hajjaj Al-Mizziy, Ibnun Naqib Asy-Syafi’iy,Abul ‘Abbas Al-Isybiliy dan Ibnu ‘Abdil Hadi.
Pada tahun 651 H ia menunaikan ibadah haji bersama ayahnya, kemudian ia pergi ke Madinah dan menetap disana selama satu setengah bulan lalu kembali ke Dimasyq. Pada tahun 665 H ia mengajar di Darul Hadits Al-Asyrafiyyah (Dimasyq) dan menolak untuk mengambil gaji.
Beliau digelari Muhyiddin ( yang menghidupkan agama ) dan membenci gelar ini karena tawadhu’ beliau. Disamping itu, agama islam adalah agama yang hidup dan kokoh, tidak memerlukan orang yang menghidupkannya sehingga menjadi hujjah atas orang-orang yang meremehkannya atau meninggalkannya. Diriwayatkan bahwa beliau berkata :”Aku tidak akan memaafkan orang yang menggelariku Muhyiddin”.
Imam An-Nawawi adalah seorang yang zuhud, wara’ dan bertaqwa. Beliau sederhana, qana’ah dan berwibawa. Beliau menggunakan banyak waktu beliau dalam ketaatan. Sering tidak tidur malam untuk ibadah atau menulis. Beliau juga menegakkan amar ma’ruf nahi munkar, termasuk kepada para penguasa, dengan cara yang telah digariskan Islam. Beliau menulis surat berisi nasehat untuk pemerintah dengan bahasa yang halus sekali. Suatu ketika beliau dipanggil oleh raja Azh-Zhahir Bebris untuk menandatangani sebuah fatwa. Datanglah beliau yang bertubuh kurus dan berpakaian sangat sederhana. Raja pun meremehkannya dan berkata: ”Tandatanganilah fatwa ini!!” Beliau membacanya dan menolak untuk membubuhkan tanda tangan. Raja marah dan berkata: ”Kenapa !?” Beliau menjawab: ”Karena berisi kedhaliman yang nyata”. Raja semakin marah dan berkata: ”Pecat ia dari semua jabatannya”. Para pembantu raja berkata: ”Ia tidak punya jabatan sama sekali. Raja ingin membunuhnya tapi Allah menghalanginya. Raja ditanya: ”Kenapa tidak engkau bunuh dia padahal sudah bersikap demikian kepada Tuan?” Rajapun menjawab: ”Demi Allah, aku sangat segan padanya”.
Imam Nawawi meninggalkan banyak sekali karya ilmiah yang terkenal. Jumlahnya sekitar empat puluh kitab, diantaranya:
  1. Dalam bidang hadits : Arba’in, Riyadhush Shalihin, Al- Minhaj (Syarah Shahih Muslim), At-Taqrib wat Taysir fi Ma’rifat Sunan Al-Basyirin Nadzir.
  2. Dalam bidang fiqih: Minhajuth Thalibin, Raudhatuth Thalibin, Al-Majmu’.
  3. Dalam bidang bahasa: Tahdzibul Asma’ wal Lughat.
  4. Dalam bidang akhlak: At-Tibyan fi Adab Hamalatil Qur’an, Bustanul Arifin, Al-Adzkar.
Kitab-kitab ini dikenal secara luas termasuk oleh orang awam dan memberikan manfaat yang besar sekali untuk umat. Ini semua tidak lain karena taufik dari Allah Ta’ala, kemudian keikhlasan dan kesungguhan beliau dalam berjuang.
Secara umum beliau termasuk salafi dan berpegang teguh pada manhaj ahlul hadits, tidak terjerumus dalam filsafat dan berusaha meneladani generasi awal umat dan menulis bantahan untuk ahlul bid’ah yang menyelisihi mereka. Namun beliau tidak ma’shum (terlepas dari kesalahan) dan jatuh dalam kesalahan yang banyak terjadi pada uluma-ulama di zaman beliau yaitu kesalahan dalam masalah sifat-sifat Allah Subhanah. Beliau kadang menta’wil dan kadang–kadang tafwidh. Orang yang memperhatikan kitab-kitab beliau akan mendapatkan bahwa beliau bukanlah muhaqqiq dalam bab ini, tidak seperti dalam cabang ilmu yang lain. Dalam bab ini beliau banyak mendasarkan pendapat beliau pada nukilan–nukilan dari para ulama tanpa mengomentarinya.
Adapun memvonis Imam Nawawi sebagai Asy’ari, itu tidak benar karena beliau banyak menyelisihi mereka (orang-orang Asy’ari) dalam masalah-masalah aqidah yang lain seperti ziyadatul iman dan khalqu af’alil ‘ibad. Karya-karya beliau tetap dianjurkan untuk dibaca dan dipelajari, dengan berhati-hati terhadap kesalahan-kesalahan yang ada. Tidak boleh bersikap seperti kaum Haddadiyyun yang membakar kitab-kitab karya beliau karena adanya beberapa kesalahan didalamnya.
Komite Tetap untuk Riset Ilmiah dan Fatwa kerajaan Saudi ditanya tentang aqidah beliau dan menjawab: ”Lahu aghlaath fish shifat” (Beliau memiliki beberapa kesalahan dalam bab sifat-sifat Allah).
Imam Nawawi meninggal pada 24 Rajab 676 H -rahimahullah wa ghafarahu-.
Catatan: Lihat biografi beliau di Tadzkiratul Huffazh 147, Thabaqat Asy-Syafi’iyyah Al-Kubra, Syadzaratudz Dzahab 5/354
Sumber: http://muslim.or.id/?p=217

Senin, 30 Juli 2012

JEMBATAN LAYANG KELOK 9


Jalan Layang Kelok 9 (Fly Over Kelok 9) 

Jembatan layang (fly over) Kelok Sambilan akan dibuka selama tiga minggu mulai5 Agutus mendatang. Selain uji coba, juga untuk menyokong kelancaran transportasi arus mudik lebaran Sumbar Riau.


Secara resmi jembatan layang itu akan dibuka Desember oleh Presiden SBY.“Jembatan layang sudah bisa digunakan untuk kemudahan transportasi lebaran.Masyarakat tak perlu cemas. Jalan ini aman, petugas kepolisian dan DinasPerhubungan akan berjaga di lokasi melakukan pengawasan,” kata Kepala Dinas Prasana Jalan, Tata Ruang dan Permukiman (Prasjal Tarkim) Sumbar, Suprapto,Jumat (20/7).http://youtu.be/ee2DBvmP1MY

Disebabkan belum seutuhnya selesai pengendara yang ingin melewati jembatan layang bisa masuk melalui jalan baru pada KM 146.500 setelah Lubuk Bangkuyang terhubung dengan jembatan 3 hingga jembatan 6 pada KM 147.560. Ini dikarenakan jembatan 1 dan 2 belum selesai dan akan dilanjutkan seusai lebaran. “Di jalan jembatan 3 sampai 6 itu hanya sebagian kecil saja yang belum selesai diaspal. Sebelum 5 Agustus tuntas. Jadi pengendara akan melewati jembatan layang yang mulus,” katanya. Hanya saja, Suprapto mengingatkan jembatan layang akan digunakan sebagai jalan satu arah. 


Dari Riau harus menggunakan jalan lama. Sepanjang jalan, kendaraan tak diperkenankan berhenti. Ia khawatir kalau diperbolehkan, pengendara banyak berhenti menikmati pemandangan sehingga mengganggu kelancaran lalu lintas. “Nanti dipasang rambu-rambu sebagai pengingat,” katanya, dijelaskan Suprapto pembangunan jembatan layang ini dibagi menjadi dua tahap. 

Tahap I untuk pembangunan jembatan 3 sampai jembatan 6 yang menghabiskan dana Rp.354 miliar. Sedangkan tahap II rencana pembangunannya mulai 2012 hingga Februari 2013 dengan anggaran Rp187miliar. Total pembangunan jembatan layang tahap II sepanjang 250 meter dan ruas jalan sepanjang 1.000 meter. Jalan itu nantinya, dirancang menjadi dua arah. 


Jalan layang ini akan mempercepat perjalanan, sebab Kelok Sambilan yang lama menjadi mulut botol. Kemacetan di sana sering tak bisa dielakkan. Truk besar antara provinsi kesulitan lewat di jalur itu. Jalan layang Kelok Sambilan merupakan mega proyek, dibangun sejak masa Gubernur Zainal Bakar. Jalan ini akan mempermudah akses orang dan barang Sumbar-Riau. Keadaan akan semakin membaik jika jalan tol jadi dibangun. Sekaligus ini menjadi jawaban bagi pembangunan di luar MP3I yang dicanangkan pemerintah.

Mujahidah: Fatimah binti Ubaidillah, Ibunda Imam Syafi'i (1)

Senin, 30 Juli 2012, 07:37 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, Ketokohan dan kepakaran Imam Syafi'i tersohor seantero dunia. Ia adalah pendiri mazhab fikih dan ahli di segala bidang keilmuan. Karya-karyanya diakui dan menjadi rujukan utama. 

Kehebatan sang tokoh tak terlepas dari peran ibunda, Fatimah binti Ubaidillah Azdiyah. Nasab ke suku Al-Azd di Yaman, seperti dikuatkan oleh Al-Baihaqi. 

Sedangkan menurut sejarawan lain, Fatimah adalah Ahlul Bait. Keturunan Rasulullah SAW dari jalur Ubaidillah bin Hasan bin Husein bin Ali bin Abi Thalib.

Ia adalah madrasah pertama bagi Syafi'i. Sejak berumur dua tahun, Fatimah terpaksa harus membesarkan buah hatinya itu sendirian. Ini lantaran sang suami, Idris bin Abbas bin Usman bin Syafi'i, meninggal di Gaza.

Fatimah dikenal cerdas. Ia adalah sosok yang tegar dan tidak pernah mengeluh. Ketika suaminya wafat, tak sedikit pun harta ia warisi. Dengan kondisi serbakekurangan, ia berjuang untuk memberikan yang terbaik bagi anak semata wayangnya itu. Keinginannya satu, kelak buah hatinya tersebut menjadi figur hebat dan bermanfaat bagi semua.

Mereka pun berpindah ke Makkah. Kota suci itu dipilih agar Fatimah bisa mempertemukan Syafi'i dengan keluarga besarnya dari Suku Quraisy.Syafi'i menuturkan, langkah ini ditempuh ibundanya karena ia khawatir hidup Syafi'i sia-sia. “Ibuku ingin agar aku seperti keluarga di Makkah. Ibuku takut aku kehilangan nama besar keluargaku bila tetap tinggal dan besar di luar Makkah.”

Tak hanya itu, Fatimah ingin anaknya belajar bahasa Arab langsung dari Suku Hudzail. Konon kabilah ini terkenal dengan kefasihan bahasa. Ajaran ini kelak membekas. Imam Syafi'i bukan hanya dikenal sebagai ahli fikih, melainkan pakar seni sastra dengan kumpulan puisi gubahannya. 
Imam Asymal (pakar bahasa Arab) berkata, “Aku membaca syair-syair dari Suku Hudzail di depan pemuda dari Quraisy yang bernama Muhammad bin Idris (nama Imam Syafi'i).” Selain bahasa, di Makkah banyak betaburan guru-guru agama.


Miskin

Di Makkah, Fatimah tinggal bersama Syafi'i kecil di Kampung Al-Khaif. Nasab boleh tinggi dan terhormat, tetapi taraf ekonomi mereka di level bawah. Syafi'i menuturkan sendiri tentang kondisi ibunya yang miskin. 

“Aku tumbuh sebagai seorang anak yatim di bawah asuhan ibuku, dan tidak ada harta pada beliau yang bisa diberikan kepada guruku. Ketika itu guruku merasa lega apabila aku menggantikannya saat dia pergi,” kenangnya.